Gap Generation: Cara Memahami Kaum Muda Milenial

JAKARTA – Kajian mengenai relasi generasi muda muslim milenial dan masjid di era kekinian merupakan upaya akademik sangat penting yang membutuhkan berbagai pendekatan disiplin ilmu.

Bagi umat Islam, keduanya, baik generasi muda dan masjid, merupakan kunci paling strategis yang akan menentukan maju atau mundurnya sebuah peradaban di masa mendatang 애니팡 맞고.

Generasi muda sebagai penerus satu-satunya pengganti generasi tua dan masjid sebagai wadah persemaian para dai, khatib, penceramah, dan bahkan ulama, yang semuanya harus rahmatan lil’alamin sesuai perintah Al Qur’an. Dalam konteks Indonesia umat Islam harus memiliki pemahaman kebangsaan yang baik, yakni dapat mensenyawakan keislaman dan ke-Indonesia-an di dalam ruang ritual ibadah bernama masjid dan juga di atas mimbar-mimbar dakwah yang telah bergeser dari podium ke televisi dan kini bermigrasi secara massif ke mimbar-mimbar digital dengan segala kemudahan dan daya tariknya Count of Monte Cristo.

Permasalahan yang dihadapi adalah minimnya pengetahuan generasi tua tentang bagaimana memeperlakukan generasi muda milenial yang hidup di era dan tantangan yang sangat berbeda dengan generasi tua seperti saat ini.

Jika dilihat menggunakan teori generasi atau juga sosiologi generasi, kaum muda muslim milenial adalah mereka yang dilahirkan pada sekitar tahun 1981 – 1995 atau disebut generasi Y, setelah itu adalah generasi Z yang dilahirkan pada sektitar tahun 1996 – 2010 Catholic Gospel Choir.

Perlu menjadi catatan, bahwa teori generasi ini lahir dari kondisi negara-negara maju secara teknologi seperti Amerika Serikat. Jika dibawa ke dalam konteks Indonesia, pembagian periode tersebut tidak berlaku, karena faktor terpaan teknologi informasi dan komunikasi terhadap penduduk Indonesia memiliki jarak waktu yang berbeda dibanding dengan negara-negara maju.

Bisa ditarik kesimpulan, istilah generasi milenial di Indonesia tidak sama persis dengan millenials yang disebut oleh teori generasi di atas, akan tetapi milenial di Indonesia bisa ditarik cakupannya ke usia muda yang lahir setelah tahun 1995 hingga 2010 (Gen Avengers trailer. Z dalam teori Generasi). Setelah periode ini, atau setelah sekitar tahun 2010, penyebaran teknologi informasi dan komunikasi hampir merata di seluruh dunia.

Bagi generasi yang lahir pada era ledakan teknologi komunikasi dan informasi ini hampir memiliki ciri khas generasi yang sama, dengan sebutan generasi alpha Cuphead. Bahkan generasi ini dikandung dan dilahirkan oleh ibunya menggunakan teknologi digital, atau orang tuanya minimal telah mengenalkan gadget kepada anaknya semenjak dari buaian.

Mengapa hal ini penting untuk disinggung dalam tulisan ini? Karena hal ini sering menjadi permasalahan bagi para ustadz, penceramah, dan dai, dalam menentukan metode pengajaran agama yang sesuai bagi generasi muda masa kini Download nexon play. Apa masalahnya? Celah generasi, gap generation.

Pengalaman penulis, sering kali dalam acara-acara yang mengundang generasi milenial dalam tema dakwah di era digital, peserta memrotes jika cara mereka mendapatkan informasi dan pengetahuan tentang keagamaan hanya disebut melalui mesin pencari informasi Google dan portal berbagi video Youtube. Mereka juga tidak menerima anggapan bahwa generasi ini disebut ngaji-nya kepada internet yang tidak otoritatif, bukan kepada kiai-kiai sepuh di pojok-pojok masjid atau pesantren 가로채널 다운로드.

Sayangnya hal seperti ini sering menjadi olok-olok kekinian yang dilakukan generasi tua terhadap generasi muda, atau oleh kelompok yang merasa telah belajar Islam secara sempurna dengan mendatangi kiai, misal “Kiaiku bukan Mbah Google”. Kalimat seperti ini jika dikaji secara akademik sebenarnya disebabkan karena tidak adanya pemahaman tentang problem gap generation.

Semakin generasi milenial mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan tentang cara-cara mereka mendapatkan informasi, maka mereka akan semakin resisten juga terhadap cara-cara negatif yang mengingatkan mereka dalam mencari guru ngaji 007 Beijing Express. Mereka akan semakin asyik dan nyaman berjam-jam menonton ceramah yang memuat kekerasan verbal yang disampaikan dengan retorika yang menarik. Bahkan mereka akan mudah terbuai dengan narasi-narasi ekstremis yang disampaikan dengan gaya bicara dan tulisan yang menyentuh emosi. Di sisi yang lain, para penceramah generasi tua mulai terhimpit pekembangan zaman dan terengah-engah mengkader generasi muda muslim berwawasan kebangsaan serta mengedepankan cara-cara musyawarah dan damai dalam menyelesaikan konflik di masyarakat Download Windows Hotfix.

Pengalaman di atas terkonfirmasi oleh catatan Nicholas Carr dalam buku fenomenalnya “The Shallows“, sebuah buku yang mempertanyakan dampak internet terhadap cara berpikir manusia, apakah mendangkalkan atau sebaliknya? Dalam bukunya, Carr memberikan contoh seorang pemuda bernama Joe O’Shea, seorang mahasiswa jurusan filsafat mantan ketua perserikatan mahasiswa Florida State University yang meyakinkan publik bahwa manusia mampu menyesuaikan diri dengan laju era informasi yang sangat cepat ini 동요 상어가족. “Saya tidak membaca buku”, begitu kata Joe. “Saya membuka Google, dan saya mampu menyerap informasi yang saya butuhkan dengan cepat”.

Menurutnya, ia merasa tidak perlu membuka bab-bab dalam buku karena dengan Google Book Search ia dapat menemukan apa yang dibutuhkan dalam waktu yang super cepat. Dengan begitu, menurutnya duduk diam dan membolak-balikkan lembaran buku tidaklah masuk akal. “Bukan pemanfaatan waktu yang baik, karena saya bisa mendapatkan informasi yang saya butuhkan dengan lebih cepat melalui website.” Menurutnya, begitu kita belajar menjadi seorang pemburu online yang mahir, maka buku tidak lagi berguna.

Pernyataan Joe di atas tidak berbeda dengan apa yang dirasakan oleh generasi muda milenial di Indonesia saat ini. Fakta ini perlu menjadi catatan penting bagi setiap pendakwah agama dalam menghadapi tantangan dakwah di era digital, dimana banjir informasi dalat menghanyutkan generasi muda yang tidak memiliki imunitas atau jaring pengaman berupa daya nalar yang kritis terhadap doktrin ideologi yang membahayakan diri mereka dan masyarakat di sekelilingnya, salah satunya adalah bahaya doktrin yang terkandung dalam narasi-narasi  ekstremisme keagamaan yang mengajarkan kekerasan.

Maka, gap generasi harus dipahami dengan baik oleh semua orang, dalam hal ini para penceramah atau pendakwah agama. Dimana setiap generasi memiliki cara pandang yang berbeda-beda sesuai lingkungan sosial-historis di masa muda meraka yang membentuk ciri dan tipikal generasi yang khas dan pada gilirannya mempengaruhi cara pandang yang membentuk generasi masa kini dan masa depan. Cara pandang setiap generasi ini tidak bisa dipaksakan untuk diterima, generasi baby boomers tidak bisa memaksakan kehendaknya kepada generasi milenial dan begitu pula sebaliknya. Dalam hal agama, dibutuhkan ikhtiar lebih besar lagi untuk menjembatani perbedaan generasi tersebut, agar generasi muda milenial sebagai penerus kehidupan manusia memiliki bekal agama yang cukup dalam menghadapi tantangan di masa yang akan datang.

Oleh: M. Afthon Lubbi Nuriz
(Sumber: Buku Masjid Di Era Milenial Arah Baru Literasi Keagamaan)