Ini Bedanya Ulama dan Muballigh

DEPOK – Apakah ulama dan muballigh adalah sinonim, atau antara keduanya memiliki perbedaan?

Pertanyaan ini sangat relevan saat ini 토리코 게임. Dimana terminologi (peristilahan) ulama sedang mengalami popularitas dengan terjadinya aksi “Bela Ulama”, “Kriminalisasi Ulama” maupun “Ijtima Ulama” Summer download of Marcel. Tak sebanding dengan term (istilah) muballigh, disamping pengucapan muballigh relatif lebih sulit, kasta muballigh nampaknya tak se-prestise ulama 맥os 다운로드.

‘Ulamâ adalah isim jama’ (bentuk plural) dari ‘âlim (orang yang berilmu). Ilmu sendiri banyak macamnya. Namun, merujuk pada hadis “menuntut ilmu itu wajib bagi kaum muslimin” (HR 아프리카tv 방송. Ibnu Majah), maka ilmu yang dimaksud dalam hadis tersebut adalah Al-Quran dan sunnah, ilmu untuk menunaikan hak Allah SWT (menjalankan kewajiban), itulah ilmu yang wajib secara individu (fardhu ‘ain) untuk lazim ketahui 캔디크러쉬소다. Sedangkan ilmu lain seperti kedokteran, ekonomi, arsitektur hukumnya fardhu kifayah.

Maka ulama adalah orang-orang yang menguasai betul ilmu Al-Quran dan sunnah atau dengan kata lain ia yang mendalam ilmunya tentang hak Allah SWT dan kewajiban seorang hamba menjalankan agamanya (ilmu agama) 다음 tv팟.

Muballigh sendiri berasal dari kata balagha yang berarti sampai, baligh berarti orang yang sampai. Penambahan tasydid pada lâm menjadi ballagha artinya menyampaikan, maka muballigh berarti orang yang menyampaikan 천국의 문. Menyampaikan apa? Itulah sabda Rasulullah SAW, “ballighû ‘annî walau âyah” (HR. Bukhari) yang artinya sampaikan dariku walau satu tanda (sign) Download Google Images.

Ayat (tanda, isyarat, simbol) yang dimaksud adalah arahan-arahan ke-Tuhan-an dan kenabian. Sehingga muballigh ialah orang yang memiliki kemampuan menyampaikan apa yang harus disampaikan dalam agama juga penyambung lidah (dakwah) Rasulullah SAW Kaiser.

Dari dua definisi yang dipaparkan di atas, paling tidak ada perbedaan mendasar antar keduanya, yaitu; ulama memiliki kedalaman ilmu agama, sedangkan muballigh memiliki kemampuan untuk menyampaikan wawasan keagamaan jdk 32-bit.

Kita juga menemukan ada orang yang dalam ilmu agamanya namun belum tentu pandai menyampaikan ilmunya. Begitupun sebaliknya, ada orang yang pandai menyampaikan wawasan keagamaan belum tentu ahli dan mendalam keilmuannya, boleh jadi hanya sekedar tahu kulitnya.

Rasulullah SAW tentunya adalah prototipe keduanya, selain sebagai sumber ilmu, beliau juga muballigh. “Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan Tuhanmu kepadamu…” (Al Maidah: 67).

Melihat realita saat ini, yang banyak sesungguhnya muballigh (penyampai, penceramah, speaker). Bahkan muballigh ini diadakan kontes tersendiri yang orientasinya komersialitas. Masifnya event Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) menjadi salah satu pemicu tumbuh suburnya muballigh. Tapi perlu diingat kembali, bahwa muballigh itu belum tentu ulama.

Ulama memiliki pangkat tersendiri, sebagaimana firman Allah SWT, “Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah, yang takut kepada-Nya hanyalah ulama.” (Fathir: 28).

Artinya, syarat pertama untuk menjadi ulama itu memiliki sifat khasyyah (takut yang disertai kekaguman) dan taat kepada Allah SWT. Dan tidak akan mungkin seorang hamba memiliki khasyyah jika tidak mendalam ilmunya.

Nah, semakin mudahnya orang mengklaim diri sebagai ulama, atau memberi gelar ulama menjadi salah satu sebab degradasi (merosotnya) substansi keulamaan. Maka, penyebutan keduanya perlu ditegaskan. Tidak semata-mata karena lantang berbicara membacakan ayat atau hadis lalu disebut ulama. Idealnya, perpaduan ulama yang muballigh tentu akan meningkatkan efisiensi dan kualitas dakwah Islam.

Oleh: Mukhrij Sidqy