MENGENAL SOSOK SANG IMAM, SAYYIDI MUHAMMAD IBN ASH-SHIDDIQ AL-GHUMARI (BAGIAN 3)

Tarekat Syadziliyah Darqowiyah

Dan beliau mengambil baiat tarekat Syadziliyah Darqowiyah dari gurunya yaitu al ‘Arif billah Sheikh Assayyid Muhammad Bin Ibrahim Al-Fassi (seorang ulama besar yang makamnya di zawiyah Fez), beliau tinggal bersamanya untuk menghadiri pengajian dan mendalami suluk thariqahnya selama tiga tahun Download the movie which family.

Beliau adalah sosok yang senantiasa menganjurkan untuk mengamalkan Alquran dan sunah, serta mengambil dalil dari keduanya tanpa melihat pendapat yang bertentangan terhadap keduanya walau datang dari tokoh mazhab yang terkenal sekalipun 은하영웅전설 리메이크.

Beliau adalah sosok yang senantiasa menyeru kepada ijtihad dan meninggalkan taqlid. Mendebat para pembesar fuqaha di masanya dan beradu argumen dengan mereka 의학서적.

Beliau adalah sosok yang berusaha mendapatkan buku walau dengan harga yang amat mahal.

Beliau adalah sosok yang benci untuk berbicara selain dengan bahasa Arab, bahasa Alquran, sunah, dan penduduk surga 기어스 다운로드.

Beliau adalah sosok yang menghormati dan memuliakan para pemilik ilmu dan para guru. Juga para penghafal Alquran dan para pengajarnya.

Beliau adalah sosok yang cinta pada Ahlul Bait Bootcamp. Orang-orang yang disifati oleh Rasulullah SAW sebagai bahtera Nuh.

Cinta tulus tanpa memandang kebaikan, ilmu, kedudukan, dan takwa yang ada pada mereka. Murni karena perintah Allah SWT.

Al Imam Al Akbar Asy Syeikh Abu Abdullah Muhammad bin Shiddiq Al Ghumari Qs mendirikan Zawiyah Ash Shiddiqiyyah di atas tanah hibah yang diberikan oleh Sultan Abdul Aziz, Raja Maroko, pada tahun 1319 H.

Selain mendirikan Zawiya Ash Shiddiqiyyah, beliau juga membangun cabang zawiyah di Boesela dan Larache. Adapun zawiyah di kota Fez didirikan oleh al arif al kabir Sidi Muhammad Ayub murid dari kakek beliau yaitu Sayyid Ahmad sebagai persembahan untuk gurunya dan para pengikut atau murid-muridnya di kemudian hari.

Dan zawiyah Shiddiqiyyah di Tetouan didirikan oleh para murid ayahanda beliau Sayyidi al Haj Shiddiq al Ghumari, dan untuk pembangunan Zawiyah di Salé pembelian tanahnya sudah terlaksana pada masa beliau akan tetapi untuk pembangunannya baru terealisasi setelah beliau wafat. Sedangkan zawiyah di Zair dibangun pada masa putranya yaitu Sayyidi Ahmad Bin Shiddiq.

Beliau dikaruniai 8 putra, semuanya laki laki dan semuanya menjadi ulama besar, mereka adalah: Sayid Ahmad, Sayid Abdullah, Sayid Muhammad Zamzami, Sayid Abdul Hay, Sayid Abdul Aziz, Sayid Hassan, Sayid Murtadho dan Sayid Ibrahim.

Al Imam Al Akbar Asy Syeikh Abu Abdullah Muhammad bin Shiddiq Al Ghumari Qs beliau dikenal memiliki murid- murid yang sangat banyak. Bahkan dari murid-muridnya banyak yang menjadi ulama besar.

Diantara murid-muridnya yang mengais ilmu pada beliau telah menjadi ulama besar, seperti: al Faqih al allamah al  Arabi Abu Ayad mantan khatib zawiyah shiddiqiyyah, al allamah  al Faqih alArabi ibnu al Mubarak al-Abadi, Al-Faqih al Arabi Tlemceni yang merupakan seorang qhodli atau hakim Tangier, al Faqih al allamah al qhodli Ahmed Bouzid, al Faqih al-Hashimi al khulwi, al Faqih al adib Ayashi Sekerj, Al-Faqih Muhammad al-Haj Sadiq, Al-Faqih Muhammad al-Haj Ghumari.

Untuk diketahui, dari hampir setiap murid atau masyarakat lain yang pernah menghadiri pengajian beliau, rata-rata merasakan mendapat bimbingan apa yang telah diberikan oleh beliau.

Pada suatu saat seorang ulama ahli fiqh, Syekh al Faqih Ahmad Buhisain meerima pelajaran seputar ilmu-ilmu keislaman dari beliau di Tangier, kemudian berpamitan kepada beliau untuk pergi  ke Fez karena akan menyelesaikan studinya di sana.

Empat bulan kemudian ia kembali ke Tangier, lalu beliau bertanya kepadanya: “kenapa kamukembali lagi kesini?” ia menjawab :”wahai tuanku, ternyata orang yang pernah berguru kepadamu tidak akan terpuaskan oleh pengajaran guru yang lain”.

Padahal di Fez terdapat banyak para ulama termasuk guru-guru beliau. Beliau sendiri tidak pernah mengambil tugas atau peran jabatan apa pun di pemerintahan, bahkan sering melarang untuk berperan di pemerintahan.

Karena berperan aktif di dalamnya sama saja dengan membantu para penjajah, murid murid yang terlibat dalam tugas atau jabatan qhadli atau hakim pengadilan pun beliau kecam dengan keras (agar mengundurkan diri) karena fitnah atau kehancuran sudah terlanjur mewabah di kalangan para hakim pengadilan.