Syekh Yusri: Fitnah Akhir Zaman (Bagian 2)

Jakarta, Aktual.com – Syekh Yusri hafidzahullah mengatakan ciri yang kedua dalam pemahaman yang menjadi fitnah akhir zaman ini adalah:

“ سَيِّدُنَا النَّبِي لَمْ يُوَقَّرُوْهَ”

Artinya: “Nabi Muhammad, mereka tidak memuliakannya“.

Allah SWT memerintahkan kita untuk menolong dan memuliakan Nabi kita Muhammad SAW. Allah berfirman

“لِتُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوه”

Artinya: ”Agar kalian beriman kepada Allah dan RasulNya, dan menolong serta memuliakannya ( RasulNya)“(QS.Al Fath: 9) Download the scp folder.

Adapun golongan yang memiliki pemahaman yang sempit ini, mereka melarang kita untuk menyebutkan kata “ sayyidina “ sebelum menyebut nama Nabi SAW.

Mereka mengatakan hal ini adalah bid’ah yang bisa menjadikan seorang mukmin itu bisa masuk neraka. Dalil yang mereka pakai adalah adanya hadits yang mengatakan “لا تسيدونى” yang artinya “ janganlah kalian sebut saya sebagai tuan “ Download TimeGuard.

Jikalau kita lihat hadits ini dari segi sanadnya, hadis ini adalah bukan hadits shahih. Ditambahkan lagi kalimat ini tidak sesuai dengan kaidah bahasa arab yang fashih, sedangkan Nabi SAW adalah orang yang paling diantara bangsa arab.

Dalam kaidah fusha-nya harusnya fi’il amarnya adalah “لا تسودونى“ bukan “لا تسيدونى ”, yaitu dari asal kata “ السيادة “ Download the trade statement form. Sayyiduna Umar RA berkata “تعلموا قبل أن تسودوا” yang artinya “ belajarlah kalian sebelum kalian dijadikan pemimpin “(HR. Imam Bukhari ).

Seandainya saja hadits ini adalah hadits shahih pun, ini adalah bentuk tawadhu’ Nabi kepada ummatnya, dimana kita kita diperintahkan untuk mendahulukan adab dari pada perintah Stupid.

Sebagaimana ketika sahabat Abu Bakar RA menjadi Imam shalat ketika Nabi sakit, kemudian Nabi datang menuju barisan depan. Kemudian Nabi memerintahkan Abu Bakar untuk tetap menjadi imam shalat, akan tetapi beliau mundur dan akhirnya Nabi menjadi imamnya.

Ketika ditanya oleh Nabi mengapa kamu melakukakan hal ini, Abu Bakar menjawab “ tidaklah bagi seorang abu quhafah untuk menjadi seorang imam sedangkan Rasulullah berada diantara kita” broken heart. (Baca : Syekh Yusri: Fitnah Akhir Zaman (Bagian 2))

Nabi membenarkan sikap Abu Bakar, meskipun beliau tidak mentaati perintahnya. Masih banyak lagi contohnya, seperti kisahnya sayyidina Ali RA pada perdamaian hudaibiyyah dan kisahnya Hassan Ibnu Tsabit RA.

Sepertinya mereka tidak tahu akan hadits Nabi SAW yang mengatakan “أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ “ yang artinya “ Saya adalah tuan bagi seluruh anak Adam AS pada hari kiamat nanti “ (HR Download the funi game. Muslim).

Kata sayyid adalah merupakan lafadz Nabi SAW. Mereka yang menganggap apa yang Nabi tinggalkan berarti artinya Nabi melarang. Ini adalah merupakan kaidah yang salah, sehingga memberika perspektif hukum yang salah pula.

Akan tetapi yang benar adalah ketika Nabi Muhammad SAW meninggalkan sesuatu itu menunjukkan sesuatu tersebut boleh ditinggalkan, dan tidak lebih Download the Windows Update file.

Allah Ta’ala telah berfirman:

“لا تَجْعَلُوا دُعَاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًا “

Artinya: “Janganlah kalian jadikan panggilan Rasulullah diantara kalian seperti panggilan kalian kepada sesama”(QS. An Nuur:63).

Allah memerintahkan kepada para sahabat Nabi untuk memanggil Nabi mereka dengan julukan kemuliaan, yaitu ya Rasulallah, ya Nabiyyallah dan lain sebagainya Free download of Korean movie dramas.

Meskipun memanggil seseorang dengan namanya langsung adalah bukan sesuatu yang aib atau dilarang. Akan tetapi Allah mengajarkan bagaimana cara memuliakan Nabi Nya, yang salah satunya adalah dengan bagaimana cara kita memanggilnya.

Apalagi kita di zaman yang menganggap tidak sopan ketika kita memanggil orang yang lebih besar dari kita, atau orang tua dan guru kita langsung dengan menyebut namanya Download the Korean wording. Ketika mereka memanggil seorang raja atapun pesiden maka dengan menyebutkan pangkatnya terlbih dahulu.

Mereka menyebutkan yang mulia, yang terhormat, dan lain sebagainya. Seperti di Negara-negara arab mereka menyebutkan rajanya dengan kata جلالة الملك atau فخامة الملك yang artinya wahai raja yang agung 몸무게 다운로드. Adat sudah berubah, sehingga kita juga harus menghormatinya.

Imam Syafi’I dalam kaidah fikihnya mengatakan “ العادة محكمة” , yaitu adat itu adalah dianggap, bisa menjadi pertimbangan dalam memberikan hukum syari’at. Maka siapakah yang lebih pantas untuk mendapatkan gelar-gelar tersebut? Mereka ataukah Nabi kita yang merupakan Nabinya para Utusan-utusan Allah, merupakan orang yang paling mulia diantara seluruh makhlukNya?

Jikalau Nabi Yahya saja dikatakan “وَسَيِّدًا وَحَصُورًا وَنَبِيًّا مِنَ الصَّالِحِينَ” yang artinya “ Dan sebagai tuan, sebagai orang yang tidak menikah, sebagai Nabi dari orang-orang yang shaleh” (QS. Aal Imran :39).

Apalagi Nabi kita yang merupakan imamnya para Nabi dan Rasul, Imam dari semua makhluk Allah di langit dan di bumi صلى الله عليه وآله وسلم
Maka dari itu para ulama mengistihbabkan untuk untuk menyebutkan kata “ sayyidina” yang artinya adalah “tuanku” sebelum menyebutkan nama beliau.

Sebagaimana ketika kita membaca sholawat atas Nabi SAW pada tasyahhud dalam solat, membaca doa setelah adzan dan pada tempat-tempat lainnya. Wallahu A’lam

Laporan: Abdullah AlYusriy