Syekh Yusri: Jangan Mengambil Kesempatan Untuk Mendapatkan Keuntungan

Jakarta, Aktual.com – Syekh Yusri hafidzahullah Ta’ala wa ro’ah pada pengajian jum’atnya menjelaskan tentang bagaimana kita hidup di zaman krisis seperti sekarang ini 박상민 중년 다운로드.

Beliau mengatakan pada masa yang serba sulit seperti ini, janganlah mengambil kesempatan untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya dengan cara menimbun barang-barang kebutuhan masyarakat, kemudian menjualnya dengan harga yang melambung tinggi Proface. Karena Allah tidak akan pernah memberikan keberkahan di dalamnya.

Lihatlah para sahabat baginda Nabi SAW, ketika datang masa paceklik di Madinah, maka mereka tidak memutarkan barang dagangannya, akan tetapi mereka menyedekahkannya 윤고딕 무료.

Diantara adalah sayyiduna Utsman bin Affan RA, dan sayyiduna Abdurrahman bin ‘Auf RA, mereka adalah merupakan pengusaha sukses dari kalangan para sahabat di masa itu pdf 뷰어 무료 다운로드.

Apa yang mereka lakukan adalah semata-mata ajaran baginda Nabi SAW yang sudah melekat kepada hati mereka, sehingga tidak berpikir untuk mengambil kesempatan ini dengan menaikkan harga dagangannya Sketch-up 2016 32 crack.

Syekh Yusri mengatakan, hendaknya kita mencontoh mereka dalam hal ini. Mereka menutup pintu mencari rizki dan membuka pintu sedekah di masa yang sulit seperti ini 건물 부수기 다운로드.

Cukuplah hadits baginda Nabi SAW sebagai nasihat, beliau bersabda “لَا يَحْتَكِرُ إِلَّا خَاطِئٌ” yang artinya “ tidaklah menimbun kecuali orang yang bersdosa (bermaksiat)”(HR Download trueview 2018. Abu Dawud).

Karena menimbun menyebabkan barang tidak ada di pasaran sehingga harga barangpun menjadi mahal dan masyarakat tidak mampu untuk mendapatkannya Download the intersection. Maka hukum menimbun adalah haram.

Ada beberapa sebab dari paceklik, diantaranya adalah menimbun, minimnya produksi, kurangnya ibadah itqon (menyempurnakan pekerjaan) pada setiap pekerjaan dan tanggung jawab, serta ambisi dan nafsu yang berlebihan dalam segala hal 영기 한잔해.

Hendaklah kita jauhi sifat menimbun ini, karena bisa memberikan kemadharatan kepada orang lain, apalagi bagi orang islam, yang mana Nabi telah bersabda:

“لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ”

Artinya: “Tidaklah kalian dikatakan sebagai orang yang beriman, hingga kalian mencintai sodara kalian sebagaimana kalian mencintai diri kalian sendiri”(HR Download the Youku video. Bukhari).

Islam menganjurkan kita untuk selalu bekerja dan ridha terhadap apa yang telah Allah tuliskan bagi kita, dari segala macam profesi apapun itu, selagi diperbolehkan dalam islam.

Bagi petani, maka kewajiban mereka adalah menggarap sawahnya dengan sempurna hingga mampu menyuplai kebutuhan masyarakat. Bagi yang berprofesi sebagai guru, maka kewajibanya adalah memberikan yang terbaik untuk muridnya, sehingga menjadi orang yang berguna di masyarakat.

Begitu pula pada profesi-profesi lainya yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Dan semua ini adalah merupakan bentuk ibadah kita kepada Allah Ta’ala.

Allah adalah Dzat yang maha Adil, sehingga menghendaki dari setiap orang untuk menekuni pada masing-masing profesi yang saling berbeda. Karena dengan keberagaman profesi inilah, kelangsungan hidup akan tetap berjalan, karena semuanya adalah saling berkesinambungan.

Tidaklah bisa dibayangkan jika semua orang berfrofesi sebagai dokter, tanpa ada profesi yang lainnya. Maka siapa yang akan menanam padi, siapa yang bisa membangun rumah sakitnya, siapa yang yang membuat obatnya, siapa yang menjadi perawatnya, dan lain sebagainya.

Maka kewajiban kita adalah ridha terhadap yang yang Allah kehendaki dari kita dari profesi apapun itu macamnya, sehingga kita menjadi orang yang paling kaya hatinya. Baginda Nabi SAW telah bersabda:

“وَارْضَ بِمَا قَسَمَ اللَّهُ لَكَ تَكُنْ أَغْنَى النَّاسِ”

Artinya: “Ridhalah terhadap apa yang telah Allah bagikan untukmu, maka kamu akan menjadi orang yang paling kaya”(HR. Turmudzi)

Baginda Nabi SAW mengajarkan kita untuk tidak terlalu berlebihan dalam segala hal; makanan, minuman, pakaian, rumah, istri dan lain sebagainya.

Karena semua hal ini menjadikan kita memiliki jiwa yang ammarah bi as su’ (nafsu yang selalu mengajak kepada kemungkaran ). Wallahu A’lam

Laporan: Abdullah AlYusriy

(Andy Abdul Hamid)

aktual.com