Syekh Yusri: Seorang Hakim Harus Memutus Perkara Dengan Ilmu Syariat

Maulana Syekh Yusri Rusydi Jabr Al Hasani saat memberikan tausiyahnya ke Majelis Zawiyah Arraudah, di Tebet, Jakarta Selatan, Sabtu (28/1/2017). Dihadapan ratusan jemaah, Syekh Yusri menjelaskan ihwal sufi atau orang yang mendalami tasawwuf. AKTUAL/Munzir

Jakarta, Aktual.com – Maulana Syekh Yusri mengatakan, dalam memutus seseorang bersalah atau tidak, seorang hakim harus mengesampingkan ilham atau ilmu hakikat 메탈슬러그 7 다운로드. Meskipun ilham tersebut diberikan oleh rasulullah Nabi Muhammad SAW, hakim wajib menggunakan ilmu syariat.

“Ketika ada seorang hakim untuk memutuskan seseorang bersalah atau tidak, didasarkan pada tanda-tanda, bukti-bukti atau persaksian 김비서가 왜그럴까 8화 다운로드. Tidak dengan menggunakan sebuah hakikat,” kata Syekh Yusri saat memberikan tausiyah kepada majelis Zawiyah Arraudah, Tebet, Jakarta, Sabtu (28/1).

Dijelaskan dia, yang dimaksud ilmu hakikat misalnya, ketika diambang putusan, seorang hakim bermimpi bertemu dengan Rasulullah c# 웹서버 파일 다운로드. Dalam mimpinya, Rasulullah mengungkapkan bahwa si A tidak bersalah. Namun, bukti-bukti yang dikantongi tidak sesuai dengan mimpi tersebut.

Syekh Yusri pun menegaskan, meski dalam mimpi Rasulullah menyebut demikian, tetap saja hakim tersebut harus melihat dengan bukti-bukti yang ada 위기탈출 넘버원. Inilah yang disebut ilmu syariat.

“Ketika seorang hakim ingin menghukum a dan b. Tapi, hakim tersebut malamnya bermimpi bertemu rasulullah Nabi Muhammad SAW, ini hakikat 마음이1 다운로드. Dalam mimpinya Rasulullah bahwa si a ini tidak bersalah, tapi dari segi bukti-bukti yang bersalah a,” tandasnya.

(Zhacky Kusumo)

(Soemitro)

aktual.com