Adab Dalam Thariqah Shiddiqiyyah Darqawiyyah Syadziliyyah
Tasawuf

Adab Dalam Thariqah Shiddiqiyyah Darqawiyyah Syadziliyyah

Admin
6 March 2026

Dalam kitab Ad-Durar An-Naqiyah karangan Abu Al Fadl Sayid Abdullah Bin Muhammad Siddiq Al Ghumari ra. dikemukakan bahwa adab seorang murid dalam suluk thariqah terbagi pada empat bagian yaitu adab kepada Allah swt. dan Rasulullah saw., adab kepada Syekh Thariqah yang menjadi mursyid murobbinya, adab kepada sesama ikhwan sesama thariqah dan adab kepada sesama kaum muslimin secara umum.

Adab Seorang Murid Kepada Allah swt. 

Seorang murid wajib menjaga adabnya terhadap Allah swt. dengan tidak melanggar ataupun meremehkan batasan-batasan larangan yang telah ditetapkan oleh syariat bahkan seorang murid harus senantiasa mengerjakan amalan-amalan sunnah dan nawafil secara rutin. Sehingga dengan demikian keridhaan dan kecintaan Allah SWT akan ia dapatkan sebagaimana keterangan dalam Hadits Qudsi yang shahih:

وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ. (رواه البخاري) 

“Dan tidaklah seorang hamba bertaqarrub (mendekatkan diri dengan beribadah) kepada-Ku dengan sesuatu, yang lebih Aku cintai daripada apa yang telah Ku-wajibkan kepadanya, dan senantiasalah hamba-Ku (konsisten) bertaqarrub kepada-Ku dengan amalan nawafil/sunnah (selain fardhu) hingga Aku mencintainya; bila Aku telah mencintainya, maka Aku adalah pendengarannya yang digunakannya untuk mendengar, dan penglihatannya yang digunakannya untuk melihat dan tangannya yang digunakannya untuk memukul dan kakinya yang digunakannya untuk berjalan; jika dia meminta kepada-Ku niscaya Aku akan memberikannya, dan jika dia meminta perlindungan kepada-Ku niscaya Aku akan melindunginya.” (HR. Bukhari). 

Seorang murid hendaklah memiliki sifat ridha atas suratan takdir yang telah Allah swt. tetapkan untuknya sebagaimana wasiat Nabi saw. kepada Ibnu Abbas ra. :

واعلَمْ أنَّ ما أخطَأَكَ لم يَكُن لِيُصِيبَكَ، وما أصابَكَ لم يَكُن، ليُخطِئَكَ. (رواه الحاكم) 

“Ketahuilah wahai Ibnu Abbas, bahwa setiap apa saja yang tidak ditetapkan Allah untukmu, maka tidak akan pernah menimpamu, dan setiap apa saja yang (ditetapkan) menimpamu maka tidak akan pernah terluput darimu.” (HR. Al Hakim). 

Apabila keyakinan dan pemahaman tersebut telah tertanam di dalam hati sorang murid, niscaya hatinya akan menjadi tenang dan ridha atas apapun ketentuan Allah swt. untuknya. Seorang murid hendaklah mengutarakan permintaannya kepada Allah swt. dalam segala hal, sebagaimana firman-Nya:

وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِن فَضْلِهِ 

“...dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya…” (QS. An-Nisa: 32). 

Dan sabda Nabi saw.:

وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فاسْتَعِنْ باللَّهِ. (رواه الترمذي) 

“Jika engkau meminta sesuatu, mintalah kepada Allah.” (HR. Turmudzi). 

Dalam Hadits yang lain Beliau saw. juga bersabda:

لِيَسألْ أحدُكم ربَّهُ حاجتَهُ كلَّها، حتى يسألَه شِسْعَ نعلِه إذ انْقَطعَ. (رواه الترمذي) 

“Hendaklah salah seorang diantara kalian memohon kepada Tuhannya untuk setiap apa yang ia hajatkan tak terkecuali ketika tali sandalnya terputus.” (HR. Turmudzi).

Dihikayatkan pernah terjadi di kalangan ulama salaf seseorang yang mengalami kesulitan dalam hidupnya sehingga dia sempat berangan-angan untuk meminta bantuan kepada saudara-saudaranya, kemudian ia bermimpi dan di dalam impiannya tersebut dia melihat seseorang berkata kepadanya: “Jika seorang murid bisa mendapatkan setiap apa yang diinginkannya dari Allah swt., apakah pantas hatinya berpaling kepada seorang hamba?”, lantas ia terbangun dari tidurnya dan tersadar hingga menjadi orang yang berhati sangat kaya. 

Adab Seorang Murid Kepada Baginda Rasulullah Saw. 

Seorang murid hendakah berperilaku mulia, menjunjung tinggi Sunnah Nabi saw. dalam segala hal dan memuliakan keluarga serta para sahabatnya. Hal tersebut merupakan suatu kewajiban mutlak bagi setiap muslim dan tidak perlu diperdebatkan lagi, sebab dalam beberapa ayat Al-Qur’an Allah swt. telah menegaskan tentang kewajiban mengagungkan dan menghormati Nabi saw. sebagaimana mestinya bahkan ketaatan atas Nabi saw. dijadikan tolak ukur ketaatan seorang hamba kepada Allah swt. Barang siapa yang tidak rela dan patuh atas ajaran dan perintah Nabi saw., maka ia termasuk orang-orang yang tidak beriman dan mendapatkan ancaman siksa yang sangat pedih. 

Adab Seorang Murid Dengan Syekhnya 

Seorang murid wajib menghormati dan mengagungkan sosok yang ia jadikan sebagai syekhnya. Dihadapan syekhnya seorang murid tidak diperkenankan berucap dan bersikap lancang, kehadiran seorang murid di suatu majelis tidak untuk mencari perhatian syekhnya dan apabila hendak keluar dari mejelisnya harus meminta izin terlebih dahulu, tidak boleh menentang arahan syekhnya dan mengambil arahan lain yang ia dapatkan di tempat lain.

Adab ini diberlakukan oleh para ahli tasawwuf sebagai pengamalan atas bimbingan Allah swt. dalam Al-Qur’an tentang bagaimana caranya agar para sahabat Nabi saw. dapat berinteraksi dengan Nabi saw. dengan sebaik-baiknya. Sedangkan para Masyaikh thariqah, tidak diragukan lagi, mereka adalah para pengganti nabi yang memerankan tugas kenabian dalam hal memberikan arahan pelajaran serta bimbingan, sebagaimana sabda Nabi ﷺ :

إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ 

“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi.” (HR. Turmudzi, Abu Dawud, Ibnu Hibban dan Ahmad). 

Dengan demikian tatakrama yang dianut kaum sufi pun diterapkan secara turun temurun (warisan dari zaman sahabat Nabi saw.). Oleh karenanya sebelum masuk thariqah, seorang murid hendaklah memantapkan diri terlebih dahulu dan memilih sosok syekh yang dianggap sebagai pewaris Nabi, yang menguasai ilmu Al-Qur’an dan Sunnah, memahani hukum-hukum syariah dan mengamalkannya. Karena sesungguhnya arahan dan bimbingan yang benar hanya akan didapat dari seseorang yang berkepribadian sesuai dengan tuntunan hukum syariah. Bagaimana mungkin seorang yang tidak memiliki kemantapan ilmu dan kesinambungan dalam beramal sholeh (istiqomah) bisa dikatakan layak untuk memberikan pencerahan, karena seseorang tidak mungkin dapat memberikan sesuatu yang hilang darinya. 

Adab Seorang Murid Dengan Muqaddam

Merupakan kewajiban seorang murid adalah memuliakan Muqaddam (orang yang dipercaya oleh Syekh sebagai khalifahnya) dan tidak mendahuluinya, mendengarkan nasihatnya, serta menjadikannya pengganti dari syekh. Dan diharuskan bagi seorang Muqaddam untuk memperhatikan permasalahan-permasalahan ikhwan, selalu mengingatkan mereka dari waktu ke waktu yang lain, mencari tahu siapa yang tidak hadir dari mereka, lemah lembut dalam bersikap dan menyamakan satu sama lain dalam ber-muamalah. 

Adab Seorang Murid Dengan Ikhwan Thariqah

Seorang murid wajib menghormati ikhwannya dan tidak boleh merasa dirinya lebih unggul dari mereka. Bilamana ada diantara ikhwannya yang sedang sakit wajib ia tengok, yang bodoh mesti ia ajari, berbaur bersama mereka dalam pelaksanaan syiar thariqah. Kesalahan yang ikhwan lakukan atasnya jangan terlalu dihiraukan dan berupaya untuk memaafkannya, menjaga sikap sebaik mungkin, membantu mereka, apabila bertemu dengan salah seorang dari mereka maka hendaklah memulai dengan sapaan dan jabat tangan, jika ada ikhwan yang terjerumus dalam dosa nasehatilah dengan cara yang sangat santun tanpa mencemoohkan atau menjelek-jelekkannya.

Adab Seorang Murid Terhadap Sesama Kaum Muslimin

Seorang murid wajib menghormati kaum muslimin. Dalam perbagulan di masyarakat umum, seorang murid hendaklah mengedepankan kejujuran dan tawadhu, tidak berangan-angan pada siapapun, tidak pula mempunyai perasaan takut kepada orang lain. Berbuatlah sesuatu yang bermanfaat bagi kaum muslimin dan senang memberikan kebaikan bagi mereka sebagaimana menyenangi datangnya kebaikan untuk dirinya sendiri sesuai dengan sabda Nabi saw.:

لاَ يُؤمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ. (رواه البخاري ومسلم) 

“Tidak sempurna iman seseorang sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim). 

Apabila seorang murid dapat memelihara tatakrama tersebut di atas serta melanggengkannya dengan yakin dan tulus, niscaya dia akan mendapatkan dari Allah SWT setiap apa yang ia cita-citakan. Semoga Allah swt. memberikan taufik kepada kita semua.

Artikel Terkait